Telah hilang sebagian kewarasan dalam diri kita, manusia. Iki jaman edan, sopo sik ora ngedan ora bakal keduman. Orang-orang harus saling mengalahkan untuk mendapatkan sesuap nasi, harus saling sikut dan menjatuhkan untuk mengumpulkan rejeki. Manusia berlomba menciptakan sensasi untuk mempertahankan eksistensi diri.
Sensasi, telah menjalar ia kepada sendi-sendi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Yang semula hanya berkutat pada jagat hiburan, sensasi kini telah sampai pada aras-aras pemikiran, aras logika. Literasi dalam makna yang sempit, “membaca dan menulis” telah disusupi oleh antek-antek pemuja sensasi. Baca-tulis yang belum menjadi budaya pada kenyataannya mampu menciptakan perselisihan, merongrong persaudaraan dan memecah belah persatuan.
Berita dan informasi yang siapa saja dapat memproduksi, mengkonsumsi, dan mengkritisi menjadi alat penyebar kebencian yang baru. Kebenaran disamarkan dan fakta diarahkan kepada golongan pemiliki kepentingan. Informasi yang seharusnya mengokohkan dasar pengambilan keputusan dan tindakan faktanya justru mengacaukan nalar. Logika dibenamkan oleh banyaknya kebenaran umum yang beredar. Tidak ada yang abu-abu. Adanya hitam atau putih. Dan keduanya memliki pendukung yang sama banyaknya.
