Setelah tiga hari uring uringan tak menentu, akhirnya tibalah barang yang ditunggu. Keyboard bluetooth Logitech K380. Keyboard hasil cuci otak dari reviewer-reviewer gadget yang tampil di youtube. Keyboard yang dihampir emua vidio merekomendasikannya untuk disambungkan ke perangkat mobile (smartphone dan atau tablet). Keyboard yang secara offline tidak dijual di kota di mana aku tinggal.
Maka jadilah aku terpaksa membeli di salah satu e-commerce ternama, shopee. Tiga hari bukanlah waktu yang lama. Tapi tidak untuk orang yang merindu. Bagi orang yang merindu, bahkan sedetikpun terasa sangat mengganggu. Pun aku yang merindukan untuk lebih produktif menulis dimana saja khususnya menggunakan smartphone dan kayboard baru ini.
Tampilkan postingan dengan label kertas ulangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kertas ulangan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Januari 2020
Sabtu, 23 September 2017
UNBREAK
Sesungguhnya segala sesuatu hanya berotasi sesuai garis edarnya. Beredar dalam dimensi ruang dan atau dalam dimensi waktu. Dari sesuatu yang tidak ada, menjadi ada, kemudian tiada kembali, dan begitu seterusnya sampai segala sesuatunya benar-benar berakhir.
Ransel Kucel, dari sesuatu yang tidak ada, dibuat agar ada, sengaja ditiadakan, dan kembali lagi mencoba untuk diadakan. Semua keputusan berlandaskan alasan masing-masing. Semua keputusan membawa konsekuensi masing-masing. Sengaja ditiadakan dalam rangka menjalankan sebuah misi dan program bersama. Kemudian diadakan kembali untuk kebermanfaatan yang lebih besar daripada egoisme kolektif untuk sekedar memiliki sesuatu yang dapat dikerjakan berdua.
Tidak kemudian meninggalkan egoisme kolektif demi egoisme pribadi agar aku lebih dikenal daripada kami. Lebih dari itu, keputusan diambil untuk pengembangan masing-masing aku sehingga nantinya benar-benar menjadi kami yang sudah siap. Kami yang memang bisa memberikan kebermanfaatan lebih dari sekedar aku.
Jika kemudian ada yang mengatakan, bukankah lebih baik berjalan bersama membangun kami. Itupun tidak sepenuhnya salah, walaupun tidak dapat dibenarkan sepenuhnya. Sekali lagi, semuanya memiliki alasan masing-masing. Semua membawa konsekuensi masing-masing.
Dan pada akhirnya Ransel Kucel diadakan kembali. Pembelajaran dan penggemblengan akan aku. Agar aku menjadi benar-benar siap saat bertransformasi menjadi kami. Agar bekal kami untuk kebermanfaatan yang lebih luas dapat terisi dan dipersiapkan sejak hari ini.
Ransel Kucel hadir kembali. Ransel Kucel diadakan lagi...
Kamis, 20 Juli 2017
Membacalah
Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal tulisan bahkan sejak sebelum mampu secara mandiri mengenakan pakaian. Namun faktanya sayang itu tak kunjung datang biarpun kenalan sudah lama dilangsungkan. Jangankan sayang, sampai level terbiasa pun amat jarang yang mampu melakukan.
Berliterasi dalam tataran yang paling sempit (membaca dan menulis) masih dianggap sesuatu yang tidak memberikan manfaat apa-apa, masih dianggap sesuatu yang bukan merupakan kebutuhan. Namun berbeda dengan kegiatan non kebutuhan lainnya, keinginan untuk membaca dan menulis amat jauh di bawah keinginan untuk mendapatkan hiburan.
Pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya membaca (khususnya) masih cukup rendah sehingga aktivitas membaca menjadi salah satu yang paling sedikit peminatnya. Perlu dibangun kembali kesadaran akan pentingnya membaca sehingga aktivitas membaca dianggap sebagai kebutuhan yang tanpa melakukannya akan ada sesuatu yang berkurang, sesuatu yang hilang.
Setiap ahli memiliki versi tersendiri akan manfaat dan fungsi membaca. Ahli neurologi, ahli psikologi, ahli pendidikan, dan bahkan pakar sosial kemasyarakatan pun memiliki penjelasan masing-masing akan manfaat dan fungsi membaca. Dan tanpa bermaksud menambah deretan artikel yang berisi pendapat ahli tentang manfaat membaca, ada pengalaman empiris yang dapat dibagikan terkait manfaat dan fungsi membaca.
Minggu, 09 Juli 2017
Mini Merapi bernama Telomoyo
Dan akhirnya sampailah kami di Puncak Gunung Telomoyo. Tidak ada kaki yang benar-benar kelelahan, tidak ada nafas yang ngos-ngosan, dan tiada pula pundak yang pegel akibat beban carrier yang berlebihan. Hanya motor yang sedikit overheat serta lengan dan pergelangan tangan yang capek.
Memang untuk mencapai puncak gunung dengan ketinggian 1894 mdpl yang berada di Kabupaten Semarang dan Magelang ini tidak perlu berjalan seperti ketika mendaki gunung pada umumnya. Telah terdapat jalan beraspal yang dapat dilalui motor dan mobil sampai dengan puncaknya. Jalan yang dibangun karena adanya pemancar radio (repeater) dan landasan paralayang di puncaknya. Namun demikian, ukuran jalan cukup sempit dengan kondisi sudah banyak yang rusak. Perlu kewaspadaan ekstra untuk dapat mencapai puncaknya.
Di puncak, terdapat pelataran (halaman) kantor repeater pemancar yang cukup luas untuk parkir kendaraan dan sekedar ngobrol (kumpul-kumpul). Terdapat pula beberapa jenis makanan yang dijajakan untuk menemani kumpul-kumpul. Secara potensi,seharusnya dapat dilihat gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro, dan Ungaran dari Puncak Telomoyo. Namun faktanya tidak banyak yang dapat dilihat. Selain karena satu gunung yang tertutup gunung yang lain juga karena masih banyaknya halangan pandang di puncak sehingga tidak memugkinkan untuk melihat dengan sudut pandang 360 derajat.
Senin, 26 Juni 2017
Cuti Bersama Idul Fitri 2017
Prasangka paling baik dari ditandatanganinya Keppres nomor 18 tahun 2017 tentang cuti bersama tahun 2017 adalah niatan baik dari Bapak Presiden untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawai negeri sipil. Penetapan cuti bersama dan keharusan mengambilnya pada tanggal 23, 27, 28, 29, dan 30 Juni 2017 merupakan sebuah kabar baik dalam kaitannya melaksanakan program revolusi mental khususnya bagi pegawai negeri sipil.
Sebuah “pemaksaan” untuk libur pada hari-hari yang memang tidak efektif untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan merupakan langkah strategis untuk meminimalisir rendahnya produktivitas pegawai negeri sipil di semua instansi. “Pemaksaan libur” yang juga berarti meminimlaisir dan bahkan menghilangkan alasan-alasan pegawai untuk bermalas-malasan di awal masuk pasca libur lebaran. Tiada lagi alasan untuk tidak langsung memberikan pelayanan karena masih adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial.
Sebuah “pemaksaan libur” yang juga berarti meminimlaisir pegawai-pegawai yang mengambil cuti di sisa hari di tahun 2017. Sisa-sisa hari di tahun 2017 yang berarti full formation pegawai dan juga full pelayanan. Sisa-sisa hari yang juga berarti hari-hari dengan pelayanan yang optimal. Hari-hari dengan produktivitas pegawai yang tinggi.
Sebuah kabar yang menggembirakan bagi warga Negara yang membutuhkan pelayanan.
Dan semua prasangka serta kabar baik segera sirna setelah tahu bahwa keharusan mengambil cuti saat hari-hari cuti bersama ternyata tidak mengurangi hak cuti tahunan pegawai. Sedikit mengecewakan karena akan ada hari hari setelah lebaran dimana pusat pusat pelayanan tidak full formatiaon dan tidak optimal dalam memberikan pelayanan.
Dan sirnanya semua prasangka baik hanyalah akibat rasa iri yang mucul. Rasa iri yang timbul karena tiadanya libur sebanyak yang didapatkan pegawai negeri sipil.
Kamis, 22 Juni 2017
Menulis to the Point
Ada kepuasan tersendiri ketika menyelesaikan sebuah tulisan. Dan berlipat ganda dengan semakin banyaknya jumlah kata, kalimat, dan paragraf yang menjadikannya sebuah tulisan utuh. Dan perasaan tersebut berlangsung terus menerus sampai muncul kesadaran bahwa kualitas jauh lebih memberikan manfaat daripada sekedar kuantitas. Paling tidak dalam ruang lingkup tulisan.
Sebuah topik bahasan dengan beragam kalimat penjelas semakin terasa menjemukan. Kalimat penjelas dan penduking seringkali dibuat sebertele-tele mungkin untuk mengejar kauntitas yang diinginkan. Dan hasilnya, justru pesan yang ingin disampaikan tidak pernah sampai tujuan. Bisa karena kalimat pendukung yang menyamarkan topik utama, bisa juga karena pembaca sudah jemu dengan ke-bertele-telean dan akhirnya berhenti membaca tulisan.
Dan kini, pradigma bahwa kepuasan yang berlipat hanya didapatkan dari tulisan yang semakin banyak harus dihapuskan. Sudah saatnya belajar membuat tulisan sesingkat, sepadat, dan sebermanfaat mungkin. Tulisan dengan unsur kata, kalimat, dan paragraf yang jelas, tegas, dan langsung ke topik permasalahan.
Waktu semakin berharga. Manusia ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Pembaca menginginkan lebih banyak topik bacaan daripada sekedar satu topik dalam satu waktu membaca.
Menulis to the point merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan pembaca dewasa ini. Tanpa mengurangi sedikitpun informasi dan esensi, menulis to the point adalah salah satu cara mempertahankan dan bahkan meningkatkan minat baca masyarakat yang sudah ada.
Menulis to the point adalah menulis untuk kebermanfaatan, buka sekedar menulis untuk kepuasan.
Sabtu, 18 Maret 2017
Menulis Kembali
Ada hal yang sedikit mengecewakan ketika tulisan yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Gagasan, entah besar ataupun kecil yang kemudian dikembangkan. Disusun dengan kalimat yang harapannya dapat diterima oleh banyak orang tetapi faktanya justru berkebalikan. Jangankan dapat diterima gagasan, dipahami kaliat penyusunnya pun susah dilakukan.
Bahasan santai nan sederhana menjadi terkesan serius dan perlu pengulangan baca untuk memahaminya. “Keterampilan memang butuh waktu untuk mengasahnya”, begitu orang bijak sering berkata. Keahlian menulis tidak serta merta didapatkan hanya dari sekali duduk, sekali ketik, sekali menghasilkan tulisan. Perlu puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kali percobaan.
Kepausan sesaat adalah kemunduran. Latihan dan pengembangan adalah keniscayaan. Tidak akan bertahan lama apa yang dihasilkan lewat keberuntungan. Usaha dan kerja keras menghasilkan keberlanjutan.
Dan akhirnya, menulis adalah keterampilan. Menulis adalah pengulangan. Dan menulis adalah kerja keras yang tidak boleh berhenti. Sekali berhenti maka akan mati, akan segera terganti.
Sudah saatnya menulis kembali. Bangun dari harapan semu menghsilkan tulisan menawan yang tanpa latihan, tanpa pengorbanan. Saatnya kembali belajar menulis. Kembali ke dunia nyata tanpa berandai-andai dan bermimpi hampa.
Terlepas dari yang baru seperti ini hasilnya, setidaknya telah berusaha dan berpihak kepada keberusahaan.
Minggu, 12 Maret 2017
Kehilangan Gairah Menonton Pertandingan Sepak Bola
“Pertandingan bola jam 3 dini hari dinantiin, sholat isya jam 7 malem ditinggalin”“Pertandingan bola 2 x 45 menit rela ditungguin, ngaji Cuma 15 menit gak dilakuin”
Bukan tanpa alasan jika selanjutnya banyak muncul satire tentang penonton pertandingan sepak bola. Cabang olahraga yang awalnya hanya pertandingan antar dua kesebelasan telah bertransformasi menjadi sebuah industri hiburan. Pertandingan-pertandingan yang tidak lagi sekedar menang-kalah secara score tetapi juga berkaitan erat dengan fanatisme dan keyakinan.
Menyebar ke seluruh belahan bumi dengan cepat dan menjadikannya bahasa universal di dunia. Bahkan dalam beberapa kasus,sepakbola adalah sebuah agama. Agama yang bagi pemeluknya, segala yang berkaitan dengan sepak bola adalah ritual.
Namun, ditengah hiruk pikuk persepakbolaan baik dunia ataupun lokal Indonesia, aku merasa telah kehilangan gairah dalam menyaksikan pertandingan sepak bola. Atmosfer pertandingan, keindahan permainan, serta semua hiburan yang ada di dalamnya tidak serta merta mendorong atau menarikku untuk dapat menyaksikannya full selama minimal 2 x 45 menit.
Sabtu, 25 Februari 2017
Keyboard Smartphone
Sedikit ataupun banyak, ini masih ada hubungannya dengan kemauan untuk berhenti menjadi gamers nanggung. Menjadi gamers non profesional hanya akan menyita terlalu banyak waktu sehingga banyak waktu produktif yang terbuang percuma.
Waktu jeda atau waktu sengaja dijedakan untuk sekedar bermain game. Tidak ada atau mungkin minim sekali kebermanfaatan dari waktu jeda yang dimiliki.
Meninggalkan kegiatan bermain game hanya sekedar meninggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat. Untuk menjadi ideal, diperlukan kegiatan lain untuk mengisi alokasi waktu yang ditinggalkan.
Menulis adalah salah satu kegiatan mudah yang sarat manfaat. Tak perlulah kujelaskan manfaat dari kegiatan menulis. Sudah terlalu banyak informasi akan hal tersebut.
Di sini, yang perlu ku tekankan. Menulis di kala jeda antar kegiatan. Menulis tidak dengan papan ketik komputer, tetapi menulis menggunakan papan ketik di layar smartphone.
Terlihat biasa, tetapi sebenarnya tidak biasa. Bagi orang yang tidak terbiasa mengetik menggunakan smartphone, salah ketik adalah keniscayaan. Tanpa kesabaran, tulisan tidak akan pernah terselesaikan karena banyaknya kesalahan ejakan. Tetapi disini mungkin letak seninya. Bagaimana tetap sabar dengan awalan yang banyak kesalahan dikombinasikan dengan menyatukan gagasan gagasan sehingga terciptalah suatu tulisan.
Dan sekali lagi, ini adalah tulisan hasil ketikan di layar smartphone. Satu dua kesalahan mungin wajar. Gagasan yang tak utuh yang tersampaikan mungkin juga wajar. Hakikatnya ini adalah latihan sabar. Mencoba berjuang ditengah kebelum nyamannan.
Yap, biarlah aku berusaha keluar dari zona nyaman, walaupun Cuma sekedar belajar menulis dengan menggunakan keyboard di layar smartphone mini ini.
Rabu, 15 Februari 2017
Jemur Ekspres
Mentari bersinar dengan intensitas sedang. Tidak menyengat tetapi cukup menghitamkan atau bahkan menyebabkan penyakit kulit jika terpapar dalam waktu yang lama. Teduh tetapi cukup mampu untuk diubah menjadi sumber vitamin D oleh tubuh. Pagi dengan terang keemasan pantulan sinar mentari menghujam badan air di persawahan yang akhir-akhir ini susah dijumpai. Matahari memang tidak menampakkan diri sejak beberapa hari terakhir.
Udara bergerak cukup pelan namun cukup mampu pula menggerakkan rumpun padi dan batang-batang terbu di persawahan. Dan angin terasa semakin kencang seiring kecepatan berkendara yang juga ditingkatkan.
Dengan jaket dan celana basah akibat hujan semalam, dingin angin lebih dominan daripada hangatnya sinar mentari. Namun, keindahan pemandangan persawahan sepanjang perjalanan cukup mengalihkan dingin yang untungnya tidak sampai menusuk tulang. Dan dinginpun semakin berkurang seiring dengan kelembaban celana dan jaket yang juga semakin hilang.
Rabu, 08 Februari 2017
The Judgement Day
Pia-pie o paling penak yo sing maido
Bagaimanapun juga, yang paling enak adalah yang berkomentar, yang hanya mengkritik, yang nyinyir. Begitulah kia-kira terjemahan Bahasa Indonesia dari kalimat di atas.
Subyektif ataupun obyektif, dengan ataupun tanpa analisa, komentar, kritik, dan nyinyir memanglah hal yang paling mudah dilakukan. Hal-hal yang paling mudah tersebut yang juga paling enak dilakukan. Apa tidak enaknya dari mengkritik atas apa yang sudah dilakukan orang lain? Betapa mudahnya nyinyir dan berpikiran negatif atas pencapaian orang lain.
Sebagai manusia sosio-follower, mengikuti trend adalah keniscayaan agar tidak terlindas kemajuan peradaban, termasuk nyinyir-menyinyir i. Baiklah, biar ku akui sejak awal, semua adalah murni nyinyir tanpa ada tendensi apapun. Semua hanya hasil iri hati atas apa yang akan, sedang, dan telah dicapai orang atau kelompok orang lain.
Jangan mengharapkan keberadaan obyektifitas! Memang tidak akan pernah anda temui di sini. Semua hanyalah kritik yang menjatuhkan tanpa ada upaya mendorong pada perbaikan. Semua hanya prasangka picik nan negatif yang mencoba disebar di mana-mana.
Jumat, 03 Februari 2017
Menyelamatkan Proyek dari Kegagalan
Masih hangat,bagaimana sebuah proyek satu hari satu tulisan baru saja dimulai kemaren. Sebuah pembelajaran, salah satu metode aktualisasi diri. Ujian akan kepekaan, kepedulian, penemuan, dan salah satu yang paling penting, konsistensi. Konsistensi, suatu hal yang kini mulai susah dijumpai. Faktanya, semangat membara kita pada suatu bidang kebanyakan akan hilang bersama dengan waktu yang terus berjalan. “obor blarak”, begitu orang jawa menyebutnya.
Biar kutinggalkan teori soal konsistensi. Beralih ke tataran praktis, biar sedikit kutunjukkan kebisa/tidakbisaanku dalam memegang konsistensi.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, saat belum ada satupun kata yang tertuang. Belum ada gambaran hal yang akan dituliskan. Menuliskan ide dan gagasan besar, tidak akan cukup waktu yang tersedia, ya walaupun pasti akan banyak motivasi atau ledekan tentang terbangunnya Candi Prambanan hanya dalam waktu satu malam.
Kamis, 02 Februari 2017
Proyek Satu Hari Satu Tulisan
Pernah suatu ketika saya mendengar dan atau melihat hingga mendapatkan sebuah informasi mengenai gerakan satu hari satu tulisan. Gerakan atau proyek untuk menghasilkan minimal satu tulisan setiap harinya. Sesuatu yang sudah diikuti oleh banyak orang entah dengan tujuan murni untuk aktualisasi diri ataupun untuk memenangkan suatu perlombaan.
Gerakan sederhana sarat manfaat yang banyak orang tidak mampu bertahan untuknya. Di logika, apa yang susah dari menghasilakan satu tulisan setiap harinya? Bahkan rutinitas yang notabene sesuatu yang diulang-ulang pun bisa menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan tulisan. Lebih sederhana dan menggampangkan lagi, topik yang diperbincangkan dengan orang lain seharusnya dapat menjadi satu sumber tulisan.
Faktanya? Tidak semua mampu bertahan karenanya. Terlalu banyak faktor, baik teknis dan non teknis yang mempengaruhinya. Tetapi bukan hal tersebut yang akan saya bahas di sini. Saya hanya akan sedikit membahas tentang ketertarikan yang berujung pada keputusan untuk menjadi salah satu bagian dari banyak orang yang sudah mengikuti gerakan satu hari satu tulisan.
Gerakan sederhana sarat manfaat yang banyak orang tidak mampu bertahan untuknya. Di logika, apa yang susah dari menghasilakan satu tulisan setiap harinya? Bahkan rutinitas yang notabene sesuatu yang diulang-ulang pun bisa menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan tulisan. Lebih sederhana dan menggampangkan lagi, topik yang diperbincangkan dengan orang lain seharusnya dapat menjadi satu sumber tulisan.
Faktanya? Tidak semua mampu bertahan karenanya. Terlalu banyak faktor, baik teknis dan non teknis yang mempengaruhinya. Tetapi bukan hal tersebut yang akan saya bahas di sini. Saya hanya akan sedikit membahas tentang ketertarikan yang berujung pada keputusan untuk menjadi salah satu bagian dari banyak orang yang sudah mengikuti gerakan satu hari satu tulisan.
Selasa, 29 November 2016
Hasil Aplikasi Teknik Pomodoro
Percayalah, saya tidak sedang mempersalahkan kemajuan teknologi yang juga memberikan dampak negative pada manusia. Gawai dengan segala macam fasilitas yang menyertainya sedikit banyak mempengaruhi tingkat konsentrasi pemakainya. Jangankan dalam menjalankan aktivitas dan pekerjaan, menjelang, sedang, dan setalah tidur pun gawai tetap menjadi pusat perhatian.
Bukan satu-satuya faktor, tetapi paling tidak, khususnya saat ini, gawai adalah salah satu pemecah konsentrasi paling mutakhir. Betapa banyak waktu produktif yang tersita karena adanya notifikasi di gawai. Mulai dari notifikasi pesan penting sampai dengan hal yang remeh temeh sedikit banyak menyedot perhatian sehingga mengganggu pekerjaan.
Tetapi bukan itu yang ingin kutekankan. Bukan lagi fokus pada sumber permasalahan, melainkan mulai mencoba untuk fokus pada pemecahan.
POMODORO, merupakan suatu metode untuk meningkatkan produktivitas dengan cara meningkatkan fokus pada satu pekerjaan/kegiatan. Teknisnya, fokus pada suatu pekerjaan selama 20-25 menit kemudian istirahat selama 5-10 menit, lalu kembali fokus ke pekerjaan dan diulang sampai pekerjaan selesai. Perhatian harus benar-benar dipusatkan dan tidak boeh terlaihkan oleh hal-hal lain, semisal gawai dengan segala pemberitahuannya, teman sekerja yang mengajak berbicara, dan hal-hal lain yang mengalihkan perhatian dari pekerjaan.
Dan jadilah ini, tulisan amat sangat pendek hasil aplikasi teknik pomodoro. Tidak bisa dikatakan baik apalagi sempurna, dan memang bukan label itu tujuannya. Setidaknya, saya tahu bahwa butuh usaha keras untuk menghasilkan sedikit tulisan ini. Bukan usaha untuk membuat tulisannya, tetapi usaha untuk menahan diri dari pengalih perhatian selama teknik ini diaplikasikan.
Satu hal yang mungkin dapat diambil sebagai pelajaran, bahwa sebenarnya kita bisa menahan diri dari kesenangan-kesenangan semu yang melenakan. Kita bisa fokus pada kebermanfaaan dan kesenangan yang lebih hakiki dan berkelajutan.
Sekecil apapun hasil yang didapatkan, tetaplah berusaha dan mencoba. Setidaknya berusaha dan mencoba adalah bentuk keberpihakan kita pada ketidakpasrahan, pada ketidakmalasan, dan pada ketidakbodohan.
Rabu, 02 November 2016
Menahan Diri dari Kerugian dan Ke-celaka-an
Sebentar lagi hari berganti. Malam berlalu menuju pagi. Sudah seharusnya tubuh ini diistirahatkan untuk menjalani esok hari. Tenaga, hati, dan pikiran hendaknya di-refresh untuk semua aktivitas yang besok dijalani. Semua aktivitas yang menghidupi, bermanfaat, dan memberi arti.
Istirahat untuk persiapan esok hari? Perlukah itu dilakukan ketika hari ini hampir saja berlalu, tanpa sesuatupun yang bermanfaat dan memberi arti?
Sebuah pola pikir salah ketika tetap memutuskan untuk istirahat demi persiapan esok hari. Ini bukan teori dan logika sunk cost fallacy, dimana kita bisa mengabaikan/meninggalkan suatu hal/modal ketika hal tersebut akan lebih merugikan saat tetap dipertahankan. Ini hanyalah tentang hidup di hari ini. Hidup di hari ketika hari ini tidak boleh sama apalagi lebih buruk dari hari kemarin. Ini adalah hidup yang tidak ada jaminan untuk esok hari.
Dan saya memilih untuk mencoba memberi arti dengan membuat tulisan ini. Tulisan yang kalaupun tidak memberi manfaat untuk orang lain, biarlah memberi arti untuk diriku sendiri.
Egoiskah?
Selasa, 01 November 2016
Kompetisi Pribadi
Dan kau telah mengalahkanku berkali-kali. Membuatku terjatuh di lubang yang sama hingga tak terhitung jumlahnya. Ibarat keledai, aku adalah keledai dungu nan “ndablek” yang sudah jatuh dan tertimpa tangga. Yang di depan orang lain terlihat seperti pahlawan namun serta merta menjadi pecundang begitu denganmu aku dihadapkan.
Beragam kompetisi pernah kumenangkan, banyak pihak yang secara langsung ataupun tak langsung kukalahkan. Namun, tak sekalipun aku merasa pernah mengalahkanmu. Kemalasanku, tak bisakah kau sedikit mengalah untuk menyempurnakan kemenangan-kemenanganku?
Sedikitlah mengalah untuk menjadikan hidupku bukan sekedar hidup. Hidup yang dapat memberi arti. Memberi arti baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Jika kau bagian dariku, pastilah kau tahu mereka yang disekitarku yang mampu memberikan arti, minimal untuk diri mereka sendiri. Lihatlah mereka yang berbahagia dengan kerasnya usaha. Usaha keras yang terbayar dengan keberhasilan-keberhasilan dengan tuntas. Contohlah kemalasan mereka, makhluk yang sama denganmu, sedikit mengalah untuk memberikan kesempatan orang-orang agar berarti.
Ah tidak. Kemalasan mereka tidak mengalah untuk tuan nya. Mereka lah yang mampu mengalahkan kemalasan-kemalasan mereka sendiri. Sudah muncul kesadaran mereka akan posisi kemalasan dalam dirinya. Dan sebagaimana yang telah orang-orang lakukan, tak perlulah kau mengalah untukku. Biar aku mengalahkanmu karena memang aku mampu untuk itu. Biar aku dengan segenap daya dan upayaku yang mengendalikan mu. Suatu daya dan upaya yang mencerminkan nilai sportifitas, suatu kemenangan terhormat atas suatu usaha, bukan karena pemberian atau proses sengaja mengalah.
Sabtu, 01 Oktober 2016
PEDEKATE LAGI, DEKAT KEMBALI
Jadi, dari mana aku harus memulai lagi semuanya?
Pernah dekat, bahkan sangat dekat. Terpisah dalam waktu yang lama tanpa komunikasi. Dan kini, harus dipertemukan kembali.
Aneh, lebih tepatnya “kikuk”, salting, dan awkward.
Bingung? Sudah pasti.
Sepertinya memang harus memulai kembali dari awal. Tidak, sesungguhnya idak semuanya, tetapi paling tidak sampai fase di mana aku bisa biasa kembali, aku dekat denganmu lagi, akrab dan kau akrabi.
Akselerasi perkenalan, semacam perkenalan singkat untuk menghilangkan “kikuk”, pendekatan, lalu biasa seperti sebelumnya. Seperti sebelum kita terpisah lama seperti ini. Seperti saat ketika aku tidak bingung memulai segala sesuatunya denganmu. Seperti saat ketika kepekaanku terhadapmu sedang tinggi-tingginya.
Jika hidup adalah soal keberpihakan, maka upayaku ini adalah bentuk keberpihakan pada kebermanfaatan. Bentuk konfrotasi pada mudarat dan kesia-siaan.
Upayaku untuk kembali menulis adalah upaya minimalisasi waktu-waktu jeda dan waktu waktu yang dijedakan yang tidak produktif. Waktu yang sekedar berlalu tanpa ada sedikitpun pertanggungjawaban.
Baiklah, biar kumulai lagi semuanya dari sini. Dari tulisan singkat ini. Memang tidak ada yang dapat diambil oleh orang lain, tetapi penting untuk motivasi, untuk memunculkan “sense of” “kepekaan-kepekaan” unsur dan pendukung-pendukung dalam membuat tulisan.
Bismillahirrohmanirrohiim…
Inilah niat dan salah satu bentuk keberpihakanku padamu. Pada guna dan kebermanfaatan. Dan jika keberpihakanku pada guna dan kebermanfaatan adalah terlalu berlebihan, maka inilah bentuk keberpihakanku pada minimalisir waktu yang berlaku sia-sia.
Sabtu, 07 Mei 2016
Euforia Lulus Setingkat Sekolah Menengah Atas
Manusia normal pasti akan bahagia mendengar kabar gembira. Tidak terkecuali mereka yang sudah ketiga kalinya dinyatakan lulus dari satuan tingkat pendidikan. Lulus SD, SMP, dan SMA atau yang sederajatnya. Pengumuman kelulusan SMA membawa serta kebahagian bagi mereka yang dinyatakan lulus ujian. Tiga sampai empat hari yang menentukan hasil perjuangan selama tiga tahun terlewati sudah. Terlewati dengan ujung yang menggembirakan.
Kegembiraan yang menjurus pada euforia. Kegembiraan pribadi yang kemudian merugikan atau paling tidak merugikan orang lain. Momen kelulusan yang dirayakan dengan corat-coret baju dan konvoi. Tidak ada yang dirugikan dengan corat-coret seragam, walaupun sebenarnya akan lebih bermanfaat ketika baju diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Dan tidak ada yang diuntungkan dari konvoi yang dilakukan. Justru kecenderungan untuk menimbulkan kerugian yang terjadi. Berkendara keliling kota dengan knalpot berisik, ugal-ugalan, dan tidak mengindahkan tata tertib berlalu lintas selain mengganggu tentu saja membahayakan keselamatan.
Anehnya, beberapa pihak yang seharusnya memberikan arahan dan mengatur ketertiban justru seolah permisif dengan apa yang terjadi. Hanya setahun sekali, untuk merayakan kebahagiaan, atau mungkin sudah menjadi tradisi tahun ke tahun menjadi dalih pembiaran.
Rabu, 06 April 2016
Bertambah Perbendaharaan Kota yang Kukunjungi
Setiap perjalanan adalah pengalaman
Setiap pengalaman adalah pembelajaran
Dan setiap pembelajaran adalah kebaikan
Dunia itu luas. Dan jangankan dunia, Indonesia yang merupakan bagian kecil dari dunia ini pun juga luas. Bukan hanya luas yang dapat dinyatakan dengan satuan m persegi yang membentang dari Sabang sampai Merauke, tetapi “luas” pula budaya, kehidupan sosial, dan aneka macam yang lainnya lagi. Mengunjungi Indonesia adalah mengenal Indonesia dan segala yang ada di dalamnya dari sudut yang paling ideal, dari tempat yang paling dekat dengan keindonesiaan itu sendiri.
Alhamduliiah Tuhan memberikanku kesempatan untuk tinggal, singgah, atau mungkin hanya lewat di sebagian kecil dari wilayah Indonesia. Sebuah kesempatan untuk melihat keunikan wilayah yang seharusnya dapat semakin menambah kekaguman dan kecintaanku pada ibu pertiwi. Kesempatan untuk mengamati kehidupan masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang seharusnya juga menambah kepekaanku untuk membangun Indonesia tanpa ada satupun orang yang dirugikan.
Setelah lahir dan dibesarkan di Wonogiri, yang bahkan antar satu kecamatan dengan kecamatan yang lainnya sudah memiliki keberagaman budaya dan bentang alam, Tuhan memberikan kesempatan untuk mengunjung seluruh kota/kabupaten di Karisidenan Surakarta.
Selasa, 15 Maret 2016
Gambar Postingan Tidak Relevan
“Images speak louder than words”,
Begitulah yang tertulis di salah satu banner penawaran pemasangan iklan. Dan tidak hanya lebih keras, gambar juga mampu menjelaskan lebih banyak dari kata-kata. Namun, tidak selalu gambar mampu memberikan lebih banyak dan lebih baik daripada kata. Terdapat ambiguitas yang tinggi pada sebuah gambar. Penafsiran akan beraneka macam dari hanya satu buah gambar. Untuk memberikan output satu tafsiran informasi, gambar tidak cukup mampu untuk melakukannya. Diperlukan penjelasan dengan minimal satu atau dua buah kalimat. Dengan kata-kata.
Pada sebuah postingan blog. Hanya tulisan panjang tanpa gambar akan hambar dan membosankan. Gambar atau ilustrasi yang relevan dengan artikel akan menguatkan artikel yang ditulis, akan memberikan sebuah bukti. Lalu bagaimana kalau gambar yang ditampilkan tidak relevan dengan judul postingan, dengan isi yang terdapat pada artikel?
Beberapa postingan terakhir dalam blog ini dan waktu yang akan datang, telah ada dan mungkin akan semakin banyak postingan/artikel dengan gambar yang tidak relevan dengan isi artikel. Bisa jadi postingan tentang pendidikan tetapi yang muncul adalah gambar gunung.
Langganan:
Postingan (Atom)


