Jumat, 25 November 2016

Penggrebekan Prostitusi Online

Lihatlah grafik dan data-data ini! Bukankah razia terhadap praktik prostitusi online sudah marak akhir-akhir ini? Berita-berita, baik lewat media cetak, elektronik, maupun online secara intensif sudah disebarkan. Tapi fakta ini menegasikan semuanya, menjungkirbalikkan logika-logika yang ada. Situs dan akun-akun prostitusi online justru meningkat traffic nya. Semakin banyak pengunjung situs dan akun-akun prostitusi online tersebut ditengah informasi maraknya razia terhadapnya. 

Tidak ada yang dinegasikan. Tidak ada pula logika yang dijungkirbalikkan. Justru fakta tersebut sesuai dengan alur logika berfikir kita. Bukan masalah sering diberitakan lalu banyak orang yang ingin tahu. Alasannya lebih esensial dari sekedar rasa ingin tahu. 

Razia dan penggerebekan umumnya dilakukan dengan datang bersama-sama kemudian melakukan sesuatu yang disebut dengan penertiban. Razia pedagang kaki lima dilakukan dengan cara beramai-ramai ke lokasi kemudian menertibkannya. Razia prostitusi konvensional pun demikian. 

Prostitusi online? Penggerebekannya pun dilakukan secara bersama dan ramai-ramai mengunjungi situs dan akun-akun prostitusi online tersebut. Bukankah jika demikian secara langsung dapat meningkatan traffic ke situs dan akun tersebut? 

Apa yang dinegasikan? Logika bagian mana yang dijungkirbalikkan?

Kamis, 10 November 2016

Berlarilah Waktu

Terdengar lirih putaran mesin kipas menghembuskan angin keheningan

Pada detak jam dinding yang membawa sang waktu terus melaju

Di sini, di balik dinding dipan-dipan kayu, aku hanya bisa terpaku

Terpaku dan terperanjat pada kesadaran akan hidup yang bermudarat

Waktu, bisakah kau sejenak berhenti dari mengajakku berlari?

Atau setidaknya membiarkankku sedikit menepi?

Ah, menepi…

Nafsu macam ini.

Sifat kemanusiaan mana yang membiarkan tuannya larut dalam ketidakmanfaatan.

Demi masa, aku meralat ucapanku atasmu, wahai waktu.

Berlarilah kau sesukamu

Berlarilah sekencangmu

Tak perlu sekarang kau mengajakku

Karena aku yang akan mengejarmu

Rabu, 02 November 2016

Menahan Diri dari Kerugian dan Ke-celaka-an

Sebentar lagi hari berganti. Malam berlalu menuju pagi. Sudah seharusnya tubuh ini diistirahatkan untuk menjalani esok hari. Tenaga, hati, dan pikiran hendaknya di-refresh untuk semua aktivitas yang besok dijalani. Semua aktivitas yang menghidupi, bermanfaat, dan memberi arti. 

Istirahat untuk persiapan esok hari? Perlukah itu dilakukan ketika hari ini hampir saja berlalu, tanpa sesuatupun yang bermanfaat dan memberi arti?

Sebuah pola pikir salah ketika tetap memutuskan untuk istirahat demi persiapan esok hari. Ini bukan teori dan logika sunk cost fallacy, dimana kita bisa mengabaikan/meninggalkan suatu hal/modal ketika hal tersebut akan lebih merugikan saat tetap dipertahankan. Ini hanyalah tentang hidup di hari ini. Hidup di hari ketika hari ini tidak boleh sama apalagi lebih buruk dari hari kemarin. Ini adalah hidup yang tidak ada jaminan untuk esok hari. 

Dan saya memilih untuk mencoba memberi arti dengan membuat tulisan ini. Tulisan yang kalaupun tidak memberi manfaat untuk orang lain, biarlah memberi arti untuk diriku sendiri. 

Egoiskah?

Selasa, 01 November 2016

Kompetisi Pribadi

Dan kau telah mengalahkanku berkali-kali. Membuatku terjatuh di lubang yang sama hingga tak terhitung jumlahnya. Ibarat keledai, aku adalah keledai dungu nan “ndablek” yang sudah jatuh dan tertimpa tangga. Yang di depan orang lain terlihat seperti pahlawan namun serta merta menjadi pecundang begitu denganmu aku dihadapkan.

Beragam kompetisi pernah kumenangkan, banyak pihak yang secara langsung ataupun tak langsung kukalahkan. Namun, tak sekalipun aku merasa pernah mengalahkanmu. Kemalasanku, tak bisakah kau sedikit mengalah untuk menyempurnakan kemenangan-kemenanganku?

Sedikitlah mengalah untuk menjadikan hidupku bukan sekedar hidup. Hidup yang dapat memberi arti. Memberi arti baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Jika kau bagian dariku, pastilah kau tahu mereka yang disekitarku yang mampu memberikan arti, minimal untuk diri mereka sendiri. Lihatlah mereka yang berbahagia dengan kerasnya usaha. Usaha keras yang terbayar dengan keberhasilan-keberhasilan dengan tuntas. Contohlah kemalasan mereka, makhluk yang sama denganmu, sedikit mengalah untuk memberikan kesempatan orang-orang agar berarti. 

Ah tidak. Kemalasan mereka tidak mengalah untuk tuan nya. Mereka lah yang mampu mengalahkan kemalasan-kemalasan mereka sendiri. Sudah muncul kesadaran mereka akan posisi kemalasan dalam dirinya. Dan sebagaimana yang telah orang-orang lakukan, tak perlulah kau mengalah untukku. Biar aku mengalahkanmu karena memang aku mampu untuk itu. Biar aku dengan segenap daya dan upayaku yang mengendalikan mu. Suatu daya dan upaya yang mencerminkan nilai sportifitas, suatu kemenangan terhormat atas suatu usaha, bukan karena pemberian atau proses sengaja mengalah.

Sabtu, 01 Oktober 2016

PEDEKATE LAGI, DEKAT KEMBALI

Jadi, dari mana aku harus memulai lagi semuanya?

Pernah dekat, bahkan sangat dekat. Terpisah dalam waktu yang lama tanpa komunikasi. Dan kini, harus dipertemukan kembali. 

Aneh, lebih tepatnya “kikuk”, salting, dan awkward. 

Bingung? Sudah pasti.

Sepertinya memang harus memulai kembali dari awal. Tidak, sesungguhnya idak semuanya, tetapi paling tidak sampai fase di mana aku bisa biasa kembali, aku dekat denganmu lagi, akrab dan kau akrabi. 

Akselerasi perkenalan, semacam perkenalan singkat untuk menghilangkan “kikuk”, pendekatan, lalu biasa seperti sebelumnya. Seperti sebelum kita terpisah lama seperti ini. Seperti saat ketika aku tidak bingung memulai segala sesuatunya denganmu. Seperti saat ketika kepekaanku terhadapmu sedang tinggi-tingginya.

Jika hidup adalah soal keberpihakan, maka upayaku ini adalah bentuk keberpihakan pada kebermanfaatan. Bentuk konfrotasi pada mudarat dan kesia-siaan. 

Upayaku untuk kembali menulis adalah upaya minimalisasi waktu-waktu jeda dan waktu waktu yang dijedakan yang tidak produktif. Waktu yang sekedar berlalu tanpa ada sedikitpun pertanggungjawaban. 

Baiklah, biar kumulai lagi semuanya dari sini. Dari tulisan singkat ini. Memang tidak ada yang dapat diambil oleh orang lain, tetapi penting untuk motivasi, untuk memunculkan “sense of” “kepekaan-kepekaan” unsur dan pendukung-pendukung dalam membuat tulisan. 

Bismillahirrohmanirrohiim…

Inilah niat dan salah satu bentuk keberpihakanku padamu. Pada guna dan kebermanfaatan. Dan jika keberpihakanku pada guna dan kebermanfaatan adalah terlalu berlebihan, maka inilah bentuk keberpihakanku pada minimalisir waktu yang berlaku sia-sia.

Jumat, 24 Juni 2016

MEFT PROJECT

Sebuah program atau proyek yang saya namai dengan satu penggalan kata dari nama tengahku. 

Filosofi? Sama sekali tidak ada filosofi dari pemilihan nama tersebut. Tidak pula bermaksud promosi dengan brang meft. Kecuali username untuk akun clash royale dan clash of clans, tidak ada produk apapun yang saya keluarkan dengan brand meft. Murni hak prerogratif dan mungkin sedikit egoisme pribadi saya memilih nama tersebut. Nama adalah doa, tetapi apa yang dilakukan si pemilik nama adalah esensi doa itu sendiri. Dalam kasus ini, saya lebih setuju bahwa nama tidaklah berarti apa-apa kecuali sebagai penanda.

Jangan berharap lebih dengan menganggap meft project adalah program pembangunan dan kaya akan kebermanfaatan. Tidak ada program untuk membangun masyarakat Indonesia seluruhnya dan manusia Indonesia seutuhnya. Sama halnya dengan pemilihan nama, kegiatan dalam proyek ini juga murni hak prerogratif dan egoisme pribadi saya.

Meft project hanyalah perjanjian pribadi, motivasi, dan pengingat untuk selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kalaupun tidak bisa disebut dengan berkarya, setidaknya bukan hal yang merugikan diri sendiri pada khususnya dan khalayak pada umumnya.

Jumat, 17 Juni 2016

Tak Hilang Kesempatan Berjodoh

Susana semakin santai dengan hamburan cahaya remang dan gemercik suara air mancur di taman. Di bilik berukuran empat meter persegi sebuah rumah makan bergaya tradisional tersebut lima pemuda semi bapak-bapak mengisi perut setelah seharian berpuasa. 

“Mengapa pilih tempat di sini? Terlalu dekat tempat ini dengan akses utama. Akan banyak orang berseliweran di depan kita nantinya”, tanya Alfa pada Beta, salah seorang yang memesan tempat tersebut.

“Justru itu yang dicari. Semakin banyak yang lewat, semakin besar kemunkinan untuk melakukan seleksi”, jawab Beta dengan santainya.

“Itu hanya berlaku buatmu Mas. Aku dan Alfa sudah punya putri, Charlie bulan depan akan menikah, Delta sudah punya pacar. Hanya kamu di sini yang jomblo”, Omega menanggapi dan diikuti gelak tawa dari yang lainnya.

“Yap benar. Aku yang sekarang sudah sangat berbeda dengan yang dulu. Semasa kuliah, berkenalan atau bahkan berpacaran adalah hal yang mudah buatku. Dulu kesempatan dekat dengan perempuan bukanlah hal yang perlu dirisaukan. Sekarang, jangankan sampai dekat, kenalan saja susahnya bukan main”

“Tuhan sudah memberimu kesempatan untuk serius dengan satu perempan Mas. Tapi sayang, kamu justru menyia-siakan kesempatan yang diberikan padamu. Tapi tenang Mas, kesempatan tidak hanya akan datang sekali, termasuk kesempatanmu mendapatkan jodoh. Yakinlah bahwa akan datang kesempatanmu untuk mendapatkan jodoh. Ya, walaupun mungkin kesempatan keduamu itu akan hadir di fase kehidupanmu berikutnya, di akhirat kelak”, tanggap Delta dengan santai yang juga diikuti oleh gelak tawa kelimanya.

“Sudah-sudah makan dulu, keburu waktu buka nya habis”…….