Kamis, 20 April 2017

BER-PASSION-LAH

Kata orang, hidup ini harus ber-passion. Harus ada sesuatu yang kita bisa mengerjakannya dengan sepenuh hati. Sesuatu yang bahkan tanpa imbalan pun kita rela melakukannya. Sesuatu yang dengan melakukannya kepuasan kita dapat membuncah. 

Walaupun hanya kata orang dan kata orang tidak melulu harus dituruti, namun kata orang tersebut tidak sepenuhnya salah. Memang harus ada sesuatu yang menjadikan hidup lebih dari sekedar hidup. Setiap orang harusnya memiliki minimal satu passion untuk memperkokoh statusnya sebagai manusia. Status kemanusiaan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Status kemanusiaan yang telah dibekali kemampuan untuk kemudian harus dikembangkan. 

Dan sayangnya tidak semua manusia memilih untuk memiliki passion. Entah karena tidak mau menggali potensi diri, tidak mendapatakan akses untuk menggembangkan passion, atau memang tidak mau memiliki passion, banyak orang yang kemudian memilih untuk menjadi manusia yang sekedar hidup. Manusia yang mengikuti arus. Manusia yang selalu mengandalkan takdir tanpa mau berusaha untuk melakukan perbaikan. 

Alternatif

Faktanya, hidup bukanlah pilihan. Menjalani dan menghidupinya barulah terdapat banyak pilihan. Menjadi orang baik atau buruk. Menjalani suatu kegiatan atau kegiatan lain. Bahkan hidup yang mengalir mengikuti arus pun juga merupakan suatu pilihan. Dan segalanya butuh pengorbanan. Semuanya membawa konsekuansi. 
Keberhasilan dan atau kegagalan selain buah dari perjuangan yang akhirnya ditentukan oleh takdir juga merupakan konsekuensi dari pilihan yang diambil. Pilihan baik membawa keberhasilan atau kegagalan. Pilihan buruk sudah pasti membawa kegagalan. Banyaknya pilihan berbanding lurus dengan peluang keberhasilan. Semakin banyak alternatif pilihan, semakin besar kemungkinan keberhasilan. 

Selasa, 11 April 2017

Sistem Cuci Baju Kering

Jadi berapa lama bajumu tidak kau cuci? Lusa itu yang kau pakai, kemarin juga, dan sekarang pun kondisinya masih sama? 

Memang apa hubungan antara tiga hari dikenakan dengan dicuci dan tidak dicuci? Apakah hanya karena tiga hari dipakai lantas berarti itu belum dicuci? 

Memang tidak berarti. Tiga hari berturut-turut dikenakan tidak serta merta belum dicuci. Tetapi dengan pengalaman dan perhitunganku, sekilat-kilatnya mesin cuci, tidak ada yang bisa seperti itu. Setidaknya untuk saat ini. 

Ah, memang kau ini berpikirnya hanya untuk hari ini. Cobalah berpikir untuk masa depan. Kau tahu, mesin cuci sekarang telah menggunakan teknologi penghematan air. Di saat teknologi mesin cuci sekarang telah meminimalisir penggunaan air, justru aku sudah menerapkan nol mililiter air. Pakaian yang kini kukenakan kemaren telah kucuci dengan sistem kering. Dengan sistem pengering-anginan, “windbased system” kalau bahasa kerennya. Berbanggalah karena temanmu ini telah satu langkah di depan dalam penemuan dan penciptaan teknologi. 

Dan satu langkah di depan dalam hal kemalasan juga.

Sabtu, 18 Maret 2017

Menulis Kembali

Ada hal yang sedikit mengecewakan ketika tulisan yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Gagasan, entah besar ataupun kecil yang kemudian dikembangkan. Disusun dengan kalimat yang harapannya dapat diterima oleh banyak orang tetapi faktanya justru berkebalikan. Jangankan dapat diterima gagasan, dipahami kaliat penyusunnya pun susah dilakukan. 

Bahasan santai nan sederhana menjadi terkesan serius dan perlu pengulangan baca untuk memahaminya. “Keterampilan memang butuh waktu untuk mengasahnya”, begitu orang bijak sering berkata. Keahlian menulis tidak serta merta didapatkan hanya dari sekali duduk, sekali ketik, sekali menghasilkan tulisan. Perlu puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kali percobaan. 

Kepausan sesaat adalah kemunduran. Latihan dan pengembangan adalah keniscayaan. Tidak akan bertahan lama apa yang dihasilkan lewat keberuntungan. Usaha dan kerja keras menghasilkan keberlanjutan. 

Dan akhirnya, menulis adalah keterampilan. Menulis adalah pengulangan. Dan menulis adalah kerja keras yang tidak boleh berhenti. Sekali berhenti maka akan mati, akan segera terganti. 

Sudah saatnya menulis kembali. Bangun dari harapan semu menghsilkan tulisan menawan yang tanpa latihan, tanpa pengorbanan. Saatnya kembali belajar menulis. Kembali ke dunia nyata tanpa berandai-andai dan bermimpi hampa. 

Terlepas dari yang baru seperti ini hasilnya, setidaknya telah berusaha dan berpihak kepada keberusahaan. 

Minggu, 12 Maret 2017

Kehilangan Gairah Menonton Pertandingan Sepak Bola

“Pertandingan bola jam 3 dini hari dinantiin, sholat isya jam 7 malem ditinggalin” 
“Pertandingan bola 2 x 45 menit rela ditungguin, ngaji Cuma 15 menit gak dilakuin” 
Bukan tanpa alasan jika selanjutnya banyak muncul satire tentang penonton pertandingan sepak bola. Cabang olahraga yang awalnya hanya pertandingan antar dua kesebelasan telah bertransformasi menjadi sebuah industri hiburan. Pertandingan-pertandingan yang tidak lagi sekedar menang-kalah secara score tetapi juga berkaitan erat dengan fanatisme dan keyakinan. 


Menyebar ke seluruh belahan bumi dengan cepat dan menjadikannya bahasa universal di dunia. Bahkan dalam beberapa kasus,sepakbola adalah sebuah agama. Agama yang bagi pemeluknya, segala yang berkaitan dengan sepak bola adalah ritual. 

Namun, ditengah hiruk pikuk persepakbolaan baik dunia ataupun lokal Indonesia, aku merasa telah kehilangan gairah dalam menyaksikan pertandingan sepak bola. Atmosfer pertandingan, keindahan permainan, serta semua hiburan yang ada di dalamnya tidak serta merta mendorong atau menarikku untuk dapat menyaksikannya full selama minimal 2 x 45 menit. 

Minggu, 26 Februari 2017

Manusia Nir Dengar Nasihat

Biar sedikit kunasehati! Terlalu tidak bijaksana menyimpulkan seseorang dari apa yang dituliskannya. Yang ditulis memang apa yang dipikirkan, tetapi yang dipikirkan belum tentu apa yang dirasakan.
Lalu bagaimana dengan ungkapan you are what you think? kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Jadi, apa salahku yang mengetahui suatu ungkapan kemudian sedikit meyakininya? Toh ungkapan tersebut juga sudah menjadi semacam kebenaran umum.

Tiada sedikitpun yang salah. Dan memang tidak untuk mencari siapa atau apa yang benar dan apa yang salah. Bukankah aku bilang tidak bijaksana, bukan tidak benar. Penulis, siapapun dan apapun jenis tulisannya, bisa saja dia memposisikan diri sebagai orang lain. Menjadi orang di luar dirinya untuk mendapatkan lebih banyak sudut pandang. Menjadi orang di luar dirinya untuk memunculkan simpati atau empati dari dalam dirinya. Bisa saja orang yang tangguh menuliskan hal cengeng atau juga sebaliknya. Terkait ungkapan you are what you think, saya rasa tidak benar-benar itu menjadi sebuah kebenaran umum. Setidaknya mungkin berlaku sangat minim bagi penulis. Tak perlulah kujelaskan panjang lebar alasannya. Namun, pada intinya, yang dipikirkan bisa jauh dan bahkan amat jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ah,kamu ini memang pandai beralasan. Kalau memang lagi melankolis yang melankolis aja. Semua sudah jelas, baik tersirat ataupun tersirat dari tulisanmu. Mau kau mengakui ataupun tidak, aku tetap akan mengganggap yang kau tulis adalah dirimu. Kau menulis sesuatu yang girang ku anggap kau senang. Dan kaumenulis sesuatu yang melankolis, kuanggap kau sedang galau.

Terserah lah kalau memang maumu seperti itu. Bertambah satulagi berarti orang yang tak mau dinasehati. Setelah dua lainnya yaitu orang yang sedang jatuh cinta, pendukung pasangan calon kepala daerah, dan satu lagi, KAMU!

Sabtu, 25 Februari 2017

Keyboard Smartphone

Sedikit ataupun banyak, ini masih ada hubungannya dengan kemauan untuk berhenti menjadi gamers nanggung. Menjadi gamers non profesional hanya akan menyita terlalu banyak waktu sehingga banyak waktu produktif yang terbuang percuma. 

Waktu jeda atau waktu sengaja dijedakan untuk sekedar bermain game. Tidak ada atau mungkin minim sekali kebermanfaatan dari waktu jeda yang dimiliki.

Meninggalkan kegiatan bermain game hanya sekedar meninggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat. Untuk menjadi ideal, diperlukan kegiatan lain untuk mengisi alokasi waktu yang ditinggalkan.

Menulis adalah salah satu kegiatan mudah yang sarat manfaat. Tak perlulah kujelaskan manfaat dari kegiatan menulis. Sudah terlalu banyak informasi akan hal tersebut.

Di sini, yang perlu ku tekankan. Menulis di kala jeda antar kegiatan. Menulis tidak dengan papan ketik komputer, tetapi menulis menggunakan papan ketik di layar smartphone.

Terlihat biasa, tetapi sebenarnya tidak biasa. Bagi orang yang tidak terbiasa mengetik menggunakan smartphone, salah ketik adalah keniscayaan. Tanpa kesabaran, tulisan tidak akan pernah terselesaikan karena banyaknya kesalahan ejakan. Tetapi disini mungkin letak seninya. Bagaimana tetap sabar dengan awalan yang banyak kesalahan dikombinasikan dengan menyatukan gagasan gagasan sehingga terciptalah suatu tulisan.

Dan sekali lagi, ini adalah tulisan hasil ketikan di layar smartphone. Satu dua kesalahan mungin wajar. Gagasan yang tak utuh yang tersampaikan mungkin juga wajar. Hakikatnya ini adalah latihan sabar. Mencoba berjuang ditengah kebelum nyamannan. 

Yap, biarlah aku berusaha keluar dari zona nyaman, walaupun Cuma sekedar belajar menulis dengan menggunakan keyboard di layar smartphone mini ini.